hands of attien...
1#
dibatas cakrawala pantai itu...
dibawah kali langit biru itu...
...
2#
ditingkahi deru debur ombak.
biru laut berkejaran berlomba menggapai...
cakrawala anggun bertabur awan putih.
Baron..
3#
setangkup..
ingin ku urai.
menjadi mantra mantra tanpa aksara
menjadi nada nada sarat makna
agar..
tak lagi jumawa
mengerling pada jiwa yang nyaris terkapar
4#
...
merangkat memgais sketsa...
tertatih mengeja baik demi bait...
bola mata kian sayu...
lirih berkata...
Sunday, July 5, 2009
rindu
hands of
attien...
hands of attien...
berdamai dengan waktu.
setelah sekian lama bermusuhan dan tak helaknya mungkin sekedar untuk menoleh masa lalu. melihat jogja ketika siang, malam, siang, malam dan begitu seterusnya. ternyata dimensi dunia ini terus berubah dengan semaunya. walhasil.. banyak kita yang tertipu
kehidupan dunia ini sangatlah panjang. dan usia kita akan hanya berlalu saja. sejenak pun tidak. lalu, berapa sih yang kita miliki??
sejak dulu itu, selalu. ah, lelahnya...
muak juga dengan keramaian.
kadang ingin seperti Abdurahman yang mampu berbagi dengan alam dan pagi. teduhnya hutan kecil-kecil itu...
lelah dengan tawa
setidaknya membuatku terbungkam
berbagi?
selalu akan begitu.
sepinya...
memilih untuk jadi kotak sampah. baik lah.. asal jangan sumpah serapah aja.
"jika kau memberikan perhatian pada dunia, dia akan mentertawakanmu.. "
itulah, setidaknya garis merah yang cukup ku rangkum dengan segala lelah.
rindu seperti beberapa waktu yang lalu
ketika do'a tak henti untuk dipanjatkan
rindu...
ketika begitu dekat rasa ini...
ketika gerimis air mata ...
ketika dan ketika itu...
moment-moment yang lebih cantik dari perunggu itu...
aku rindu
berdamai dengan waktu.
setelah sekian lama bermusuhan dan tak helaknya mungkin sekedar untuk menoleh masa lalu. melihat jogja ketika siang, malam, siang, malam dan begitu seterusnya. ternyata dimensi dunia ini terus berubah dengan semaunya. walhasil.. banyak kita yang tertipu
kehidupan dunia ini sangatlah panjang. dan usia kita akan hanya berlalu saja. sejenak pun tidak. lalu, berapa sih yang kita miliki??
sejak dulu itu, selalu. ah, lelahnya...
muak juga dengan keramaian.
kadang ingin seperti Abdurahman yang mampu berbagi dengan alam dan pagi. teduhnya hutan kecil-kecil itu...
lelah dengan tawa
setidaknya membuatku terbungkam
berbagi?
selalu akan begitu.
sepinya...
memilih untuk jadi kotak sampah. baik lah.. asal jangan sumpah serapah aja.
"jika kau memberikan perhatian pada dunia, dia akan mentertawakanmu.. "
itulah, setidaknya garis merah yang cukup ku rangkum dengan segala lelah.
rindu seperti beberapa waktu yang lalu
ketika do'a tak henti untuk dipanjatkan
rindu...
ketika begitu dekat rasa ini...
ketika gerimis air mata ...
ketika dan ketika itu...
moment-moment yang lebih cantik dari perunggu itu...
aku rindu
| Reaksi: |
Wednesday, July 1, 2009
rumah cahaya
hands of
attien...
hands of attien...
sonet seorang santri
sering aku bermanja pada dinding
saat guruku hadirkan ilmu
yang bersamanya malaikat
lalu alam-pun bersyafaat
pernah juga aku berpura-pura
diantara mereka yang khusu' pendengarannya
lalu aku cemburu
yang lain telah mengusung ilmu
sedang aku...
juga kadang-kadang aku sengaja ke alam mimpi saja
yang meraih imajinasi
padahal waktu itu
surga tengah menawarkan segala
ah, kasihannya aku
dan kini pun menderita
bertemu sesal
adakah lagi
mencium wangi surga
bersama guru dan para santri
di rumah cahaya
ah cahaya...
rumah cahaya (mb Ria)
sonet seorang santri
sering aku bermanja pada dinding
saat guruku hadirkan ilmu
yang bersamanya malaikat
lalu alam-pun bersyafaat
pernah juga aku berpura-pura
diantara mereka yang khusu' pendengarannya
lalu aku cemburu
yang lain telah mengusung ilmu
sedang aku...
juga kadang-kadang aku sengaja ke alam mimpi saja
yang meraih imajinasi
padahal waktu itu
surga tengah menawarkan segala
ah, kasihannya aku
dan kini pun menderita
bertemu sesal
adakah lagi
mencium wangi surga
bersama guru dan para santri
di rumah cahaya
ah cahaya...
rumah cahaya (mb Ria)
| Reaksi: |
hands of
attien...
hands of attien...
ku titipkan sajak-sajak ini untuk mu
pada angin yang menuju kesana
pada air yang bersama hujan kan turun disana
pada awan yang juga memandangmu disana
matahari terik
hari-hari selalu begitu
bulan kelam
tapi tiap alam tidaklah begitu
kuhembuskan rindu
pada tiap baik do'aku
bagimu
selalu tak lekang usai sujudku
ku titipkan sajak-sajak ini untuk mu
pada angin yang menuju kesana
pada air yang bersama hujan kan turun disana
pada awan yang juga memandangmu disana
matahari terik
hari-hari selalu begitu
bulan kelam
tapi tiap alam tidaklah begitu
kuhembuskan rindu
pada tiap baik do'aku
bagimu
selalu tak lekang usai sujudku
| Reaksi: |
Tuesday, June 30, 2009
guru
hands of
attien...
hands of attien...
wajahnya teduh dengan segala bentuk dedikasi
assessor sang guru
ah..
andaikan aku bisa begitu
bolehkah aku bicara?
persamaan yang manakah yang menyatakan bahwa kami adalah produk pasaran
ketika pendidikan menjadi lahan ekonomi
ketika matematika tak lagi mendapati nilai optimum keuntungan
para calon akuntan yang selalu menghitung hutang
dan sastrawan yang tertawan
bolehkah lagi aku bicara?
tentang tetanggaku yang mengaggur selepas SMA
katanya, " ah, biar aku jadi TKI saja"
kemudian adiknya bilang, " aku ikut ya kak..?"
lagi ya aku bicara...
bagaimana membuat garis lurus antara pangan dalam negeri yang berbanding lurus dengan jumlah sarjana
para diploma pun gigit jari
sedang master dan doktor terlalu jauh untuk kami lampaui
pak guru...
jangan sendu
aku tahu
pun begitu
kau adalah buruh
meski sepuh
pengorbananmu seluruh
meski tameng pendidikan negerimu cemburu di hantar partai-partai peserta pemilu
lalu kau semakin sendu
murid-muridku pasti 'kan tersedu-sedu
wajahnya teduh dengan segala bentuk dedikasi
assessor sang guru
ah..
andaikan aku bisa begitu
bolehkah aku bicara?
persamaan yang manakah yang menyatakan bahwa kami adalah produk pasaran
ketika pendidikan menjadi lahan ekonomi
ketika matematika tak lagi mendapati nilai optimum keuntungan
para calon akuntan yang selalu menghitung hutang
dan sastrawan yang tertawan
bolehkah lagi aku bicara?
tentang tetanggaku yang mengaggur selepas SMA
katanya, " ah, biar aku jadi TKI saja"
kemudian adiknya bilang, " aku ikut ya kak..?"
lagi ya aku bicara...
bagaimana membuat garis lurus antara pangan dalam negeri yang berbanding lurus dengan jumlah sarjana
para diploma pun gigit jari
sedang master dan doktor terlalu jauh untuk kami lampaui
pak guru...
jangan sendu
aku tahu
pun begitu
kau adalah buruh
meski sepuh
pengorbananmu seluruh
meski tameng pendidikan negerimu cemburu di hantar partai-partai peserta pemilu
lalu kau semakin sendu
murid-muridku pasti 'kan tersedu-sedu
| Reaksi: |
Subscribe to:
Posts (Atom)


