Minggu, 29 November 2015

Apa kabar cinta
Mengingatmu
Seperti mengais abu
Kugenggam, namun tak mampu kubawa pulang

Apa kabar cinta
Masih ingatkah kembang-kembang kita?
Merah merekah, bukan mawar, krisan bahkan kamboja
Ia resah, merindumu
Lagi

Apa kabar cinta
Wajahmu membuatku terjaga
Setelah sekian panjang lorong waktu kulalui,
Ada lagi
Puisi malammu

Apa kabar cinta
Entah puncak mana yang kau daki, samudra mana yang kau sebrangi, Aku masih dirumahku
Menunggumu
Lagi

Apa kabar cinta
Kapan kau sambangi aku
Rindu ini membuncah
Entahlah

Apa kabar cinta
Mestinya kita lelah
Tapi kau tetap pujanggaku
Meski pun telah renta



Apa kabar cinta
Aku usang
kau tetaplah cahaya

Kamis, 16 Oktober 2014

Rimbun pepohonan halaman kedatuan ini yang akan menjadi saksi. Benarlah ia menjadi seorang pendekar yang tangkas hingga menjadi Pandaya Sriwijaya. Tapi seorang Agrilia tetaplah seorang wanita hingga ia tidak mampu membalas tatapan Dapunta Cahdyawana akan tetapi biarlah waktu yang berkata. Sedang kelebat bayang Sekta tiba-tiba melesat, membangunkannya dari diam.
" Baiknya kita lanjutkan perjalanan kita Dapunta." Jawab Agrilia.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Berapa kali aku harus membasuh wajahku
Untuk menghalau bayang yang bisa menyesatkanku
Berapa kali harus ku datangi waktu
Dan menerka-nerka adakah dongeng yang sama terjadi di ruang itu

Jembatan kita jauh terbentang
Mungkin pulau ini tak ringan menopang
Sepertinya aku harus lari lagi
Entah mengejar bayangan, atau meninggalkan mimpi untuk tidak terus dikenang

Minggu, 24 Agustus 2014

Coba tebak, mata seorang gadiis yang biasanya siap dipinang itu ijo klo lihat anak bayi, atau anak kecil, #pengalaman. Klo mata mereka yang sudah punya keluarga dan punya anak akan ijo karena melihat apa?

Mungkin tiap orang beda-beda. Ibu-ibu biasanya ada yang gemar belanja tas atau baju biar fashionable, sudah melebihi kebutuhan tapi tetep aja beli yang ini yang itu bahkan model yang sama akan dibeli ulang. Klo bapak-bapak mungkin beda lagi ijonya. Ijonya mungkin lihat rumah idaman atau kendaraan bagus. ehm...

Ini kalau saya. Yah.. tidak memungkiri kita pengennya semua serba nyaman. Mungkin karena lingkungan dirumah tempat saya tumbuh bukanlah rumah mewah atau nyaman banget dengan semua fasilitas, bukan berarti tidak pengen. Mau sih... Tapi kok beneran ijo lihat buah-buahan, sayuran yang beneran ijo, padahal stok di rumah masih ada dan mesti diolah. alasannya sih yah buat besok. tapi kan besok juga pasti mampir warung lagi kan... ?

Klo disuruh ngaku, masuk aja ke carefour atau superindo yang sayurannya wedew, bikin keder. Gemez itu lhat sayuran. Padahal ya cara masaknya juga gitu2 aja. Ngesop, bening, oseng, udah. Atau buah-buahan yang emang gw tu rakus banget dari kecil sampe nurun ke adek-adek. Wajib, kudu belanja.

Terus masalah lu? Yah itu dia. Alhamdulillah sekarang udah punya lemari es di rumah, waktu belum ada sering tu buang sayuran. Bukan ga mau masak, tapi yang udah dimasak juga masih ada.

Tapi saya bersyukur Mungkin saya beneran ijo lihat itu semua. Disamping itu, ehm.. Pengennya tu dapur complete. Terus demo tu bikin masakan baru dan kue-kue. Ala shef gitu. Bahan lengkap di lemari es. Tapi ga segitu egoislah. Ada yang lebih penting.

Ehm.. #lagi. Kita tahu kan definisi senang dan bahagia itu beda. Dengan cara fikir yang ga bisa cabang-cabang saya pengen banget ngurusin anak dan keluarga aja tapi tetep dapet gaji. Hahaha... Jelas dong. Surga dunianya disitu. , Tapi kita kan ga milik suami dan anak semata. Kita juga anak lho, kakak dan juga sekaligus adek. Ya ga? Dan kita juga punya cita-cita untuk orang banyak.

Dear..
Hidup hanya sekali
Benahi apa yang musti dibenahi
Tuntaskan apa yang menjadi kewajiban
Lapang dan sabarlah karena kita tidak pernah sendiri

Selasa, 19 Agustus 2014

Menyapamu
Dalam sajak yang mungkin sudah kita lupa
Setidaknya malam yang selalu sendiri memberi waktu kita untuk termangu

Kita gagap ketika bertemu
Aku yg sering bertanya bahwa mungkin kita salah perahu

Lama-lama cinta menua
Lalu akan kau bawa kemana sampan ini melaju?

Senin, 11 Agustus 2014

Ini penyakit, kronis. Emang salah satunya kita mutusin ga ada TV di rumah. Mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Wizz..

Tapi di kos sini ada TV. Yang ga habis pikir, masih ya, film yang pernah ditonton atau iklan yang semakin kreatif atau acara yang paling ga penting pun di plototin.

Cuman masa' sih penyakit ky ginian nurun ke anak? Nabila itu klo udah di depan TV atau klo udah nguasain laptop pasti minta nonton, ga kedip. Alasannya makan sambil nonton, tapi makannya bisa ga habis-habis. Tontonan yang sama juga diulang-ulang ga pake bosen.
Jadinya klo mau ketik-ketik musti nunggu dia tidur dulu. Padahal kita juga udah pengen tidur.

Sekarang Nabila punya hobi baru. Ceritanya nemu kumpulan doa punya Omnya waktu kecil. Tiap mau tidur kita musti ngajarin dia baca 50 doa2 yang ada plus atau intinya cerita gambar-gambar yang ada di sebelah bacaan doanya. hm... Dan klo emaknya nyolong dua halaman aja (dengan nglewatin) pasti ketahuan, "Kan yang ini kan belum." dan dijawab aja, " Oh.. Iya ya."
Meski dia udah nguap2 ga karuan krn ngantuk, itu bacaan musti selesai. Dan pertanyaan yang berkaitan dengan gambar semakin detail, klo kemaren jawabnya apa, kan ya lupa hari ini, terus dia bakal nimpalin, " Kan kemaren Ibu tahu." dan ku jawab lagi, "Oh.. Iya ya?" Hehe..

Ndok ndok.. seneng lihat kamu udah gede dan tambah cuerewet.. banyak tanya dan semakin bingung jawabnya. Udah bingung jawabnya ditambah pertanyaan lagi dan hasilnya semakin pusing cara njawabnya. Itu lho.. pertanyaanmu yang " Emang kenapa??".

Bapakmu mbelain, " Ya pasti capek, tapi kan juga seneng."
" Iya, gpapa." Beneran seneng, tapi musti nambah sabar. PRnya sekarang gmn ini kerjaan cepet kelar. Biar bisa ngajak Nabila nge-bolang lagi, ga nonton mulu' mesti kita juga puengen... Hehe.
Lha.. Bapak juga ikut nge-bolang ya. Puasa nonton juga bareng kita. Gpapa lah dibilang ga gaul. Hehe

Minggu, 10 Agustus 2014

Kupikir aku punya sayap
Hingga dapat kudatangi tempat-tempat yang kuinginkan
Atau kantong doraemon

Lalu kau datang
Melipat kertas-kertasku yang lusuh

Kemudian kau banyak bertanya begitu juga aku
Tentang pertemuan kita

Nda,entah berapa banyak purnama terlewati di kota ini
Hingga lupa, kita telah menua